NASKAH DONGENG KI LUNTO FLS3N SMP TINGKAT KABUPATEN SERANG 2025 SMP NEGERI 3 CIKANDE KECAMATAN CIKANDE NASKAH SADURAN KARYA : Badrussalam, S. Sn
Assalamulaikum warrahmatullahi wabarokatuh...
(Teknik muncul masuk ke panggung
sambil membunyikan alat musik suling satu kalimat nada) 1-1 | 2-2 1-1
Pada zaman dahulu, di sebuah
desa yang terletak di Kecamatan Cikande,
terdapat sebuah danau yang sangat indah, dikenal oleh masyarakat setempat
dengan nama Danau Ciherang. Danau ini tidak hanya terkenal karena keindahan
alamnya, tetapi juga karena sebuah legenda kuno yang sudah turun-temurun
diceritakan oleh para tetua desa. Legenda itu tentang seorang lelaki bernama Kilunto
yang berubah menjadi manusia ular.
Warga sekitar Cikande biasa
menyebutnya Kilunto sebagai sosok hantu air atau biasa dikatakan bahwa sosok Kilunto
adalah sosok siluman ular berkepala. Kilunto adalah seorang yang kesehariannya
bekerja sebagai pemancing dan peternak, Kilunto tidak pernah pulang karena
sehari-hari ia selalu berada di Gubuk bersama ternaknya.
Bagaimana kisah kelanjutannya,
mari kita simak bersama-sama. Ini dia K I L U N T O.
Ki Lunto : Waktu
sudah menunjukkan WMI BC (Waktu Mancing Indonesia Bagian Cikande) hehe Mancing
lagi, hehe mancing terus sampai dapat.
(Ki Lunto
sedang bersiap-siap menyiapkan semua keperluan alat pancing sederhananya dengan
cara mencari cacing sawah terlebih dahulu)
: nah,
sebelah sini biasanya sudah banyak pasti cacingnya, yuk kita gali sekarang (Ki
Lunto menggali tanah terlebih dahulu, kemudian ia mendapatkan banyak cacing
sebagai umpan untuk ikan-ikan di rawa)
: Nah...
banyak umpan gini kan kita bisa mancing sampai berhari-hari. Hehe
(tibalah
adzan dzuhur.....) Allahuakbar...
: ayo
mana ini ikan pertamaku ayo segera santap umpan cacingku ini, haha (seketika
kampul pancingan Ki Lunto bergoyang ke kanan ke kiri dan tenggelam, ini petanda
sudah mulai ada ikan-ikan yang tertarik dengan umpannya).
Asiiik
siap-siap kita strike dapat ini ikan pertamaku... uhuuu
(Kilunto
mengangkat pancingan tarikan pertamanya, lalu dapatlah ia).
Eu eu asyik,
dapat strike pertama, yaa.. meskipun cilik lumayan bae lah gona gegado. Lumayan
be dari pada ora olih.
(Ki Lunto
menyimpan Ikan hasil pancingannya ke dalam jaring yang biasa ia bawa).
: Oke
beres beh, kita kasih umpan lagi. (dengan sambil membaca mantra, ‘pok kalipok
iwak cilik iwak gede kudu nyaplok’ Lunto melempar pancingannya kembali ke
rawa). (Ketika sedang asyik memancing, kampul ki Lunto bergoyang lagi iihaa
petanda ikan sudah mulai lapar). Wuih makin sore makin galak ini, banyak
ikannya yuhuuu... (ketika di tarik eh ternyata gagal, tidak dapat ikannya yang
malah menyangkut ke saung miliknya).
: wuisss... waduh,
duh duh nyangkol maning, wui ana-ana bae kita mah, (selanjutnya Kilunto
mencoba membetulkan mata pancing yang tersangkut di saungnya, tetapi
tiba-tiba... terdengar suara dari kejauhan memanggil namanya)
Istri Kilunto : Kaaaang.... Akaaang,
kih sangu panas kih kang pare anyar. Mbene ngegiling mau ema.
Kilunto : wuih
sangu panas sangu panas be, kita kih sing panas, mbene ulih iwak siji cilik
malah sangkut kih pancing kita gara-gara ira teka.
Istri Kilunto : ih kang ko
tiba-tiba nyalahin Inem. Inemkan baru datang, ini, ini Inem bawa sesuatu, untuk
Akang tersayang.
Kilunto : sudah
simpan saja di situ di atas meja biasa, aku belum lapar. Duh ini nyangkut susah
sekali dilepaskan mata pancingku, bisa-bisa putus ini.
Istri Kilunto : wuih si
Akang meni sewot ngomonge. Yawis lah Inem arep balik bae ning umah (seketika
itu isterinya pamit pulang meninggalkan Kilunto)
Kilunto : euh, nah
wis aman. Kita mancing maning. (Kilunto memasang pancing lagi, kemudian ia
lanjut memancing) nah-nah kih ulih maning kih bakale. (akan tetapi suara perut
lapar Kilunto sudah tidak mampu di bendung lagi) (kruyuk-kruyuk ‘suara perut
lapar). Duh lapar amat iki, sudah lah pancingnya saya tegèr saja lah diamkan semalaman supaya dapat ikan
lebih besar hahaha. (kemudian, mega merah sudah mulai terlihat di ufuk barat
sana, dan terdengar suara shalawatan lalu di susul adzan dari Masjid kejauhan
sana, tibalah adzan magrib) Allahumma sholli sholatan kamilatan wasalim
salaman, taman a’lasayyidina muhammadi nilladzi, tanhalu bihil u’qodu
watangfarizu bihil qurobu, watuqdo bihirroghoibu, watunnalu bihirroghoibu......
Allahumma shalli a’la sayyidina muhammadintibbil qulubi wadawaiha, (waktu maghrib sudah tiba, kentongan Masjid
dan Bedug berbunyi) Tong-tong tong tong tong, dug-dug dug dugdugdugdug tong
tong tong.tong Allahuakbar, Allahuakbar..
Ki Lunto : duh makan
dulu saja ah (Kilunto lahap membuka dan memakan nasi rantang yang dibawakan
oleh Isterinya, mengunyahnya dengan cepat). Hauf hauk eum enak.... (makan sudah
selesai, Kilunto segera mencuci tangannya di rawa dan setelah itu langsung
terlelap tidur).
Ki Lunto : (suara
jangkrik mulai mengerik dan suara tonggeret mulai mengorek)
krik-krik-krik-krik, ngeiiiikngeiiikngeikkkngeikk. (disusul dengan suara ngorok
Kilunto) khoooook, khoooook, khhhoooook (selanjutnya tibalah waktu pagi hari,
ayam berkokok dan matahari mulai terbit dengan malu-malu, kemudian Kilunto
terbangun) kongkorongooook, kongkorongooooook.
Ki Lunto : duh aah,
sudah agak siang ternyata, duh lupa saya memberi makan ternak ayam-ayam saya.
Saya kasih makan dulu ah ayam-ayamku... (sementara sambil berjalan terdengar
suara ayam-ayam ribut dan dua ekor kambing milik Kilunto) kiyek’kiyek’kiyek
mbeeee, mbeeee, kiyek mbeee. (Kilunto segera mengambil pur ayam dan
memberikan makan untuk ayam dan mengarit sedikit rumput di sebelah saungnya
untuk domba-dombanya). (Setelah memberi makan ternak piaraannya, Kilunto
mancing kembali dengan mengangkat pancingan yang ditinggalkannya kemarin sore).
Ki Lunto : : Ah kita ambil tarik pancingannya ah siapa
tahu dapat ikan gabus gede (Kilunto segera menarik pancingannya tetapi ketika
di angkat)
wuhh gak ada
ikan-ikan yang mampir di kailku. Hah ya sudah lah, kita mancing lagi terus. (Adzan
dzuhur sudah lewat, sebentar lagi masuk waktu Ashar akan tetapi Kilunto belum
dapat kiriman makan dari Isterinya dan bersamaan dengan itu Kilunto sangat
lapar, kemudian pas mengecek ikan hasil tangkapannya yang disimpan dijaring pun
tidak ada. Kilunto mulai merasa panik dan sangat-sangat lapar karena air minum
pun sudah habis. Terpaksa Ki Lunto mencari apa saja yang berada di sekitarnya
untuk dimakan).
: Duh.. perutku
sudah melilit, lemas, kosong, haus, duh biasanya Inem sudah datang membawakan
bekal rantang, kalau tidak kesini hari ini saya makan apa ya..., nah-nah apa
ini wah ternyata telur. (Kilunto mendapatkan satu butir telur dari semak-semak
yang telurnya agak besar dan bukan seperti telur ayam). Tanpa berpikir panjang,
Kilunto lahap langsung membukanya dan memakan satu caplokan utuh telur
tersebut. Seketika itu dalam beberapa menit kemudian, Kilunto merasa ada yang
aneh dari tubuhnya). Euh euh ko badan ini serasa sakit-sakit ya (kreteuk-kreteuk
suara tubuh persendian Kilunto bunyi dengan keras) euh sakit, sakit. Duh duh ko
panas perutku... aaaaaaawh awwwkhh panas-panas ah dari dada hingga mata kaki
semuanya panas aaaaaah sakit, sakit. (karena Kilunto merasa panas dan sakit
setengah badannya, lalu ia langsung menceburkan dirinya ke dalam danau Ciherang,
Jebuurrrrr)
aaaaah panass awwww, seketika itu Kilunto
terus menggerakan kakinya di dalam air hingga ia sangat-sangat kepanasan dan
kemudian Kilunto sedikit mementaskan tubuhnya untuk naik ke atas Danau sambil
merengek kesakitan, akan tetapi tiba-tiba setengah badan sampai kaki Kilunto
berubah menjadi ular) ha? Wa?!! Apa ini mengapa tiba-tiba badan dan kakiku
berubah menjadi ular. Akh akh... (ditengah setelah Kilunto berubah menjadi
manusia setengah ular, tibalah Istrinya memanggil dari kejauhan), bahkan untuk
makan pun Kilunto hanya mengandalkan kiriman dari istrinya ya selalu membawakan
rantang berisi makanan setiap hari.
Istri Kilunto : kang, akang
ini biasa nasi rantangnya datang. Maaf ya Inem telat bawa bekal makan akang. Ini
Inem masak sayur asem kesukaan Akang (sambil berbicara ternyata setelah tiba di
saung Kilunto tidak ada, sehingga isterinya mencarinya ke sungai sambil
memanggil-manggil).
: kang,
akang dimana? Kang? Duh pasti sedang mancing ini.. (dengan begitu Kilunto mulai
merasa panik apabila sampai terlihat oleh Isterinya sendiri bahwa dia sudah
menjadi sosok manusia setengah ular).
Ki Lunto : duh
bagaimana ini jika isteriku tahu aku sudah bukan menjadi manusia yang utuh
lagi, duh... (ketika itu isterinya melihat secara langsung, kaget, dan cukup
histeris)
Istri Kilunto : hah kang!
Astagfirullah, ini akang??? Kenapa Akang berubah menjadi setengah ular... ya
amppuuun
Ki Lunto : duh
maafkan aku isteriku, aku tidak tahu tadi ketika setelah adzan ashar aku merasa
sangat lapar karena kamu belum juga membawakan makanan untukku, lalu aku
terpaksa mencari makanan, dan aku menemukan sebutir telur dan ternyata telur tersebut adalah telur ular
yang ada didanau ini.
Istri Kilunto : tidak, tidak
kang haah aku takut melihatnya...
Ki Lunto : sudah
isteriku pergi saja dan jangan kembali lagi karena ini ulahku semasa hidupku
dihabiskan di rawa danau ini, jangan bilang-bilang warga kampung kita ya. Ini
mungkin sudah takdirku menjadi seorang manusia yang membangkang, tak kenal
waktu semasa hidup. Maafkan aku isteriku. (Seketika itu ki Lunto menyelam ke
danau Ciherang dan menghilang tiada kabar, konon katanya hingga saat ini
masyarakat, pemuda,pemudi, dan anak-anak terkadang melihatnya jikalau siang
bolong atau malam hari ketika ada orang-orang mancing).
Menurut warga sekitar cerita
mengenai Kilunto ini sudah ada sejak turun-temurun dan sudah tersebar di
wilayah Cikande sebagai sebuah cerita mitologi dan dongeng untuk anak-anak
cerita mengenai Kilunto berubah menjadi sosok siluman ular berkepala manusia. Digunakan
untuk menakut-nakuti anak-anak yang sering bermain di Rawa/Danau Ciherang
sampai magrib. Dan pada akhirnya, nilai-nilai yang dapat kita ambil dari kisah
Ki Lunto ini diantara-Nya yaitu;
1. Sebagai
manusia hiduplah bersosialisasi dengan manusia lainnya,
2. Sebagai
manusia, jangan terlalu menutup diri. Berbagilah sesekali,
3. Sebagai
manusia, mulailah menata diri dan disiplin menjalani kewajiban-kewajiban kita
sebagai hamba ilahi.
4. Dan sebagai manusia berhati-hatilah dalam mengambil keputusan. Jangan terburu-buru oleh nafsu. Namun semua itu adalah rahasia Allah SWT. Wallahu a’lamu bis shawab hanya Allah yang Maha Mengetahui.
SELESAI.
Sekian dan
terima kasih, itulah kisah dongeng dari Ki Lunto.
“Ikan betik
ikan bandeng, dimakannya siang hari,
Sekian Dewan
Juri yang cantik dan ganteng, sampai bertemu kembali”
Wassalamualaikum
arahmatullahi wabarakatuh...

Comments
Post a Comment